TANGERANG | Koranmegapolitan.co.id — Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) terus mempercepat pengembangan blok migas terminasi di Aceh dengan menggandeng investor nasional maupun asing. Hingga pertengahan 2026, sedikitnya empat blok migas eks terminasi telah mendapatkan minat investasi dan masuk tahap joint study.
Kepala BPMA, Nasri Djalal, mengatakan capaian tersebut menjadi langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan industri migas Aceh sekaligus memperkuat posisi daerah sebagai kawasan potensial gas bumi nasional.
“Pencapaian penting lainnya adalah BPMA berhasil menarik minat investor terhadap seluruh blok terminasi yang ada di Aceh pada tahun ini,” kata Nasri Djalal saat menghadiri IPA Convex 2026 di ICE BSD, Tangerang, Kamis (21/5).
Empat wilayah kerja yang telah diminati investor meliputi Blok Andaman I, Blok Lhokseumawe, South Block A, dan Blok Meuseuraya.
Untuk Blok Andaman I yang sebelumnya dilepas Repsol, minat investasi datang dari konsorsium asal Jepang yakni Japan Petroleum Exploration (Japex) bersama Japan Oil, Gas and Metals National Corporation (Jogmec).
Sementara itu, Blok Lhokseumawe eks terminasi Zaratex diminati PT Energi Hijau Biru bersama Barakah Petroleum Malaysia. Adapun South Block A diminati Badan Usaha Milik Daerah Aceh, PT Pembangunan Aceh (PEMA).
Sedangkan Blok Meuseuraya kini memasuki tahap joint study oleh PT Putra Indo Manunggal.
Nasri menjelaskan mayoritas blok masih berada pada tahapan kajian bersama atau joint study lantaran sebelumnya berstatus terminasi eksplorasi. Meski demikian, BPMA menargetkan percepatan proses agar dua blok dapat segera masuk tahap kontrak Production Sharing Contract (PSC) pada tahun ini.
“Target BPMA tahun ini adalah dua blok bisa langsung masuk ke tahap kontrak PSC (Production Sharing Contract). Sementara dua lainnya ditargetkan menyusul pada awal 2027,” ungkap Nasrir.
Menurutnya, investor Jepang pada Blok Andaman I telah memulai proses joint study sejak Maret 2026 dan ditargetkan selesai sekitar November mendatang.
Di antara seluruh wilayah kerja tersebut, Blok Lhokseumawe dinilai paling prospektif karena memiliki potensi cadangan gas yang besar serta kesiapan pengembangan yang lebih matang dibanding blok lainnya.
“Ketika terminasi dilakukan pada 2024, blok tersebut sudah berada pada tahap POD (Plan of Development), sehingga tinggal pembuktian cadangan melalui pengeboran lanjutan. Potensinya diperkirakan mencapai sekitar 900 BCF gas,” ujar Nasrir.
Selain fokus pada pengelolaan blok migas, BPMA juga mendorong revisi Undang-Undang Pemerintahan Aceh guna memperluas kewenangan pengelolaan wilayah migas hingga 200 mil laut.
“Jika revisi tersebut disahkan, maka kewenangan BPMA nantinya dapat mencapai hingga 200 mil laut,” ujarnya.
BPMA optimistis kolaborasi bersama SKK Migas dan masuknya investor baru akan mempercepat pengembangan sektor gas bumi Aceh, terutama dengan adanya potensi temuan offshore di kawasan Andaman yang diproyeksikan mulai berproduksi pada 2028 hingga 2029.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!