Lonte-Lonte Kapitalisme
Oleh: Novita Sari Yahya | Bogor, (01/6/2026)
Wajah-wajah perempuan berseliweran di layar
Mengaku simpanan para pejabat korup
Netizen melempar hujatan dan makian
Sementara sebagian lain menaburkan pujian
Mereka menjajakan pesona di ruang sosialita
Mengukur harga diri dengan sorot kamera
Meniti tangga kelas melalui tubuh dan citra
Mengejar gemerlap yang menjanjikan kuasa
Lalu puisiku dituduh jorok dan tak beradab
Karena menyebut luka dengan nama sebenarnya
Seakan kesopanan hanya perkara kata-kata
Bukan kenyataan yang telanjang di depan mata
Mana yang lebih memalukan
Puisi yang menyingkap borok zaman
Atau tubuh yang diperdagangkan demi kedudukan
Di bawah sorak tepuk tangan dan sanjungan
Ini kegilaan yang tampak waras
Menggerus cita-cita perempuan yang merdeka
Mengubur perjuangan yang pernah ditegakkan
Oleh mereka yang berjalan dengan kehormatan
Namun kemunafikan juga tinggal dalam diri kita
Kita mengikuti lalu mengagumi tontonan itu
Kita mencela sambil memberi panggung
Kita menghukum sambil menjadi penonton setia
Jangan terpukau pada tubuh yang dipamerkan
Jangan terburu-buru menobatkannya sebagai kebanggaan
Lihatlah karya dan jejak pengabdiannya
Bukan sekadar citra yang dirangkai untuk kekaguman
Sebab yang paling berbahaya bukanlah mereka
Yang menjual tubuh demi menyambung hidup
Melainkan para anjing kapitalisme
Yang menjual tanah dan nasib jutaan manusia
Kubacakan puisi ini untukmu wahai pria Indonesia
Anak dari seorang perempuan
Suami dari seorang perempuan
Dan ayah bagi seorang anak perempuan
Bogor 1 Juni 2026
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!