Koranmegapolitan.co.id, Kabupaten Pati – Menjelang berakhirnya tahun kelima sekaligus tahun terakhir AgResults Indonesia Aquaculture Challenge Project, WWF-Indonesia menggandeng Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pati, Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau Jepara, Pokdakan Mina Barokah, serta lima kompetitor AgResults untuk melaksanakan proyek percontohan budidaya nila salin di Desa Jepat Lot, Kecamatan Tayu.
Inisiatif ini menjadi bagian dari skema kompetisi berhadiah berbasis Pay-for-Results dalam program AgResults. Proyek ini dirancang sebagai ruang pembuktian langsung performa teknologi para kompetitor, sekaligus melibatkan pemerintah untuk melihat dampak nyata inovasi terhadap produktivitas budidaya. Melalui pendekatan tersebut, pemerintah diharapkan berperan aktif dalam mendiseminasikan hasil keberhasilan proyek, sehingga adopsi teknologi terus berkembang di kalangan pembudidaya skala kecil, bahkan setelah kompetisi berakhir.
Nila salin (Tilapia sp.) sendiri merupakan komoditas unggulan yang dibudidayakan di air payau dan telah dikembangkan DKP Pati sejak 2014. Produksinya tercatat mencapai sekitar 7,5 ribu ton pada 2023 berdasarkan data BPS Jawa Tengah. Perkembangan komoditas ini bermula dari menurunnya produktivitas tambak akibat persoalan kualitas air dan serangan penyakit pada sistem polikultur udang-bandeng. Dalam kondisi tersebut, nila salin hadir sebagai alternatif menjanjikan karena daya adaptasinya yang tinggi serta masa pertumbuhan yang relatif lebih singkat dibandingkan bandeng.
Saat ini, sekitar 1.800 hektare lahan tambak di Kecamatan Tayu, Margoyoso, dan Dukuhseti dimanfaatkan untuk budidaya nila salin. Desa Jepat Lot dipilih sebagai lokasi proyek percontohan karena memiliki infrastruktur dan kelembagaan yang memadai. Meski demikian, produktivitas budidaya di wilayah tersebut masih perlu ditingkatkan. Dalam satu siklus, pembudidaya rata-rata memanen 2,5 ton dengan tingkat kelangsungan hidup sekitar 40 persen, serta masih menghadapi tantangan efisiensi pakan.
Proyek percontohan yang dimulai Oktober 2025 ini berlangsung selama 3–4 bulan di tambak seluas 2.500 meter persegi dengan sistem polikultur semi-intensif nila salin dan udang vannamei. Sebanyak 50.000 benih nila salin dan 30.000 benih udang vannamei ditebar. BBPBAP Jepara menyediakan benih unggul, sementara dukungan teknologi berupa aerator dan autofeeder diberikan oleh sejumlah perusahaan peserta kompetisi.
Panen yang digelar pada 10 Februari 2026 menunjukkan hasil menggembirakan. Meski sempat terdampak banjir pada 9–23 Januari, produksi nila salin mencapai 3 ton dengan ukuran 4–6 ekor per kilogram dan tingkat kelangsungan hidup sebesar 47 persen. Siklus panen pun lebih singkat, dari biasanya 3,5–4 bulan menjadi 3 bulan 10 hari.
Ketua Pokdakan Mina Barokah, Nugroho, menyebut dukungan teknologi, benih unggul, serta pendampingan dari DKP Pati membuat pertumbuhan ikan lebih optimal dan penggunaan pakan lebih efisien. Ukuran ikan di lokasi percontohan bahkan lebih besar dibandingkan tambak sekitar yang masih berada pada kisaran 10–12 ekor per kilogram.
Keterlibatan pemerintah juga semakin diperkuat melalui fungsi penyuluhan. Perwakilan Pusat Penyuluh Kelautan dan Perikanan, Ifan Ridlo, menegaskan pentingnya pendampingan agar masyarakat memiliki bukti nyata sebelum mengadopsi teknologi baru. Meningkatnya penggunaan inovasi di lapangan pun membuat peran penyuluh perikanan semakin strategis.
Secara keseluruhan, penerapan teknologi dalam proyek ini berhasil meningkatkan potensi produksi melalui percepatan pertumbuhan, siklus panen yang lebih cepat, serta tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi. Pemerintah Kabupaten Pati melalui Dinas Perikanan dan Kelautan berkomitmen untuk menyosialisasikan hasil proyek ini ke kelompok pembudidaya lainnya, membuka peluang peningkatan produksi sekaligus pasar baru bagi para peserta AgResults.
Dengan capaian tersebut, budidaya nila salin di Pati semakin menunjukkan prospek cerah sebagai komoditas unggulan perikanan air payau yang adaptif, produktif, dan berkelanjutan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!