CIKARANG PUSAT, Koranmegapolitan.co.id – Pemerintah Kabupaten Bekasi terus mendorong pengembangan sektor pariwisata berbasis industri melalui konsep Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions (MICE). Langkah ini dinilai sejalan dengan karakter Kabupaten Bekasi yang memiliki kawasan industri besar dan aktivitas bisnis yang terus berkembang.
Penguatan wisata MICE tersebut saat ini tengah dipersiapkan melalui kajian strategis oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kabupaten Bekasi. Kajian itu nantinya akan menjadi dasar rekomendasi kebijakan bagi perangkat daerah terkait, khususnya dalam pengembangan sektor pariwisata yang terintegrasi dengan industri.
Kepala Bidang Sosial dan Pemerintahan (Sospem) Balitbangda Kabupaten Bekasi, Wiwin Yuniarti, mengatakan setiap daerah perlu memiliki identitas atau branding pariwisata yang khas. Menurutnya, Kabupaten Bekasi memiliki peluang besar untuk mengembangkan wisata industri sebagai keunggulan utama daerah.
“Setiap daerah itu punya ciri khas. Kabupaten Bekasi saat ini sedang digencarkan menjadi wisata industri, karena potensi industrinya memang besar,” ujar Wiwin, Rabu (25/03/2026).
Ia menjelaskan, pengembangan wisata industri tidak hanya berfokus pada kawasan pabrik, tetapi juga harus didukung fasilitas penunjang lain seperti kuliner, hotel, ruang pertemuan, hingga destinasi hiburan. Integrasi tersebut dinilai penting untuk menciptakan ekosistem pariwisata yang lebih menarik dan kompetitif.
“Kalau industri digabung dengan kondisi wilayah sekitarnya, seperti ada tempat kuliner, meeting, dan wisata, itu akan jadi menarik dan berdampak pada peningkatan infrastruktur serta ekonomi,” katanya.
Menurut Wiwin, konsep wisata industri berbasis MICE juga memiliki peluang besar untuk memperluas promosi Kabupaten Bekasi hingga ke tingkat internasional. Hal itu seiring dengan tingginya aktivitas bisnis dan industri yang berlangsung di wilayah tersebut.
Dalam prosesnya, Balitbangda Kabupaten Bekasi saat ini tengah melakukan analisis terhadap potensi, peluang, serta hambatan yang mungkin dihadapi dalam pengembangan wisata MICE. Hasil kajian itu nantinya akan disusun sebagai rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah.
“Kami mengkaji apa saja potensi yang dimiliki, peluangnya seperti apa, serta kendala yang dihadapi. Hasilnya nanti akan menjadi rekomendasi kebijakan,” jelasnya.
Wiwin menambahkan, kajian tersebut tidak hanya berisi rekomendasi, tetapi juga akan memuat roadmap dan langkah-langkah strategis yang dapat diadopsi oleh Dinas Pariwisata dalam pelaksanaannya. Sejumlah perangkat daerah seperti Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi dan UMKM, serta instansi terkait lainnya juga dilibatkan dalam proses penyusunan kajian.
“Ini masih tahap awal, jadi belum final. Tapi ke depan hasilnya akan menjadi acuan kebijakan yang dilaksanakan Dinas Pariwisata,” ungkapnya.
Ia juga mencontohkan kawasan Grand Wisata yang berdekatan dengan kawasan industri MM2100 sebagai salah satu wilayah yang memiliki peluang besar untuk menjadi model pengembangan MICE terintegrasi. Kawasan tersebut dinilai potensial karena memiliki kedekatan dengan area industri sekaligus fasilitas pendukung yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
“Harapannya ada percontohan, misalnya di kawasan yang dekat industri, tersedia hotel, tempat meeting, dan venue expo dalam satu area,” katanya.
Lebih lanjut, Wiwin menyoroti masih adanya perusahaan di Kabupaten Bekasi yang memilih menggelar kegiatan bisnis atau pertemuan di luar daerah, seperti Tangerang atau Kemayoran. Menurutnya, kondisi tersebut justru menjadi peluang yang harus dimanfaatkan agar kegiatan ekonomi dapat berputar di wilayah sendiri.
“Jangan sampai perusahaan di Bekasi malah mengadakan kegiatan di luar daerah. Ini yang ingin kita tarik agar dampaknya kembali ke Bekasi,” tegasnya.
Meski demikian, ia mengakui pengembangan wisata MICE di Kabupaten Bekasi masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dari sisi sumber daya manusia dan ketersediaan fasilitas representatif berskala besar. Karena itu, diperlukan dukungan lintas sektor agar pengembangannya dapat berjalan optimal.
“Saat ini masih skala kecil. Perlu dorongan SDM, regulasi, serta dukungan investor agar bisa berkembang,” ujarnya.
Wiwin menegaskan, keterlibatan investor menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat realisasi wisata industri berbasis MICE, terutama dalam penyediaan infrastruktur dan fasilitas penunjang yang memadai.
“Kalau didukung regulasi, perizinan, dan insentif, tentu akan menarik investor. Ini akan saling menguntungkan,” terangnya.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!